CATEGORIES

Archive for the ‘X Uncategorized’ Category

JAVA TIN INGOTS – TIN FRUITS MONEY LOT 8PCS – TAN482


Read the rest of this entry »

KERIS BANJAR KALIMANTAN SELATAN – TAN475

SISI 1

Read the rest of this entry »

LIONTIK GIOK – TAN469 – SOLD !


Read the rest of this entry »

LAMPU KAPAL ANTIK BAHAN TEMBAGA – 3426 – SOLD !


Read the rest of this entry »

CINCIN PERUNGGU KUNO – 3250 – SOLD !


Read the rest of this entry »

BAGIAN PERHIASAN KUNO BENTUK VAJRA BAHAN EMAS – 3242 – SOLD !


Read the rest of this entry »

KOMIK MAHABRATA KLASIK JUDUL PANDAWA DALAM SENGSARA OLEH RA KOSASIH – 3115 – SOLD !!


Read the rest of this entry »

DHAPUR KERIS

Macam – Macam Dapur Keris Menurut Pakem Jawa :

Keris Lurus :
1. Betok
2. Brojol
3. Tilam Upih
4. Jalak
5. Panji Anom
6. Jaka Supa
7. Semar Betak
8. Regol
9. Karna Tinanding
10. Kebo Teki
11. Kebo Lajer atau Mahesa Lajer
12. Jalak Ruwuh
13. Sempane Bener
14. Jamang Murub
15. Tumenggung
16. Pantrem
17. Sinom Worawari
18. Condong Campur
19. Kalamisani
20. Pasopati
21. Jalak Dinding
22. Jalak Sumelang Gandring
23. Jalak Ngucup Madu
24. Jalak Sangu Tumpeng
25. Jalak Ngore
26. Mundarang
27. Yuyu Rumpung
28. Mesem
29. Semar Tinandu
30. Ron Teki 63. Maraseba
31. Dungkul
32. Kelap Lintah
33. Sujen Anpel
34. Lar Ngatap
35. Mayat Miring
36. Kanda Basuki
37. Putut Kembar
38. Mangkurat
39. Sinom
40. Kala Munyeng
41. Pinarak
42. Tilam Sari
43. Jalak Tilam Sari
44. Wora Wari
45. Marak
46. Damar Murub
47. Jaka Lola Sepang
48. Sepang
49. Cundrik
50. Cengkrong
51. Naga Tapa
52. Jalak Ngoceh
53. Kala Nadah
54. Balebang
55. Pundhak Sategal
56. Kala Dite
57. Pandan Sarawa
58. Jalak Barong atau Jalak Makara
59. Bango Dolok Leres
60. Singa Barong Leres
61. Kikik
62. Mahesa Kantong
63. Maraseba

Dapur Keris Luk 3 :
1. Jangkung Pacar
2. Jangkung Mangkurat
3. Mahesa Nempuh
4. Mahesa Soka
5. Segara Winotan
6. Jangkung
7. Campur Bawur
8. Tebu Sauyun
9. Bango Dolok
10. Lar Monga
11. Pudhak Sategal Luk 3
12. Singa Barong Luk 3
13. Kikik Luk 3
14. Mayat
15. Wuwung
16. Mahesa Nabrang
17. Anggrek Sumelang Gandring

Dapur Keris Luk 5 :
1. Pandawa
2. Pandawa Cinarita
3. Pulang Geni
4. Anoman
5. Kebo Dengen
6. Pandawa Lare
7. Pudhak Sategal Luk 5
8. Urap – Urap
9. Naga Salira
10. Naga Siluman
11. Bakung
12. Rara Siduwa
13. Kikik Luk 5
14. Kebo Dengen
15. Kala Nadah Luk 5
16. Singa Barong Luk 5
17. Pandawa Ulap
18. Sinarasah
19. Pandawa Pudak Sategal

Dapur Keris Luk 7 :
1. Carubuk
2. Sempana Bungkem
3. Balebang Luk 7
4. Murna Malela
5. Naga Keras
6. Sempana Panjul
7. Jaran Guyang
8. Singa Barong Luk 7
9. Megantara
10. Carita Kasapta
11. Naga Kikik Luk 7

Dapur Keris Luk 9 :
1. Sempana
2. Kidang Soka
3. Carang Soka
4. Kidang Mas
5. Panji Sekar
6. Jurudeh
7. Paniwen
8. Panimbal
9. Sempana Kalentang
10. Jaruman
11. Sabuk Tampar
12. Singa Barong Luk 9
13. Buto Ijo
14. Carita Kanawa Luk 9
15. Kidang Milar
16. Klika Benda

Dapur Keris Luk 11 :
1. Carita
2. Carita Daleman
3. Carita Keprabon
4. Carita Bungkem
5. Carita Gandu
6. Carita Prasaja
7. Carita Genengan
8. Sabuk Tali
9. Jaka Wuru
10. Balebang Luk 11
11. Sempana Luk 11
12. Santan
13. Singa Barong Luk 11
14. Naga Siluman Luk 11
15. Sabuk Inten
16. Jaka Rumeksa

Dapur Keris Luk 13 :
1. Sengkelat
2. Parung Sari
3. Caluring
4. Johan Mangan Kala
5. Kantar
6. Sepokal
7. Lo Gandu
8. Nagasasra
9. Singa Barong Luk 13
10. Carita Luk 13
11. Naga Siluman Luk 13
12. Mangkunegoro
13. Bima Kurdo Luk 13
14. Kalawelang Luk 13

Dapur Keris Luk 15 :
1. Carang Buntala
2. Sedet
3. Raga Wilah
4. Raga Pasung
5. Mahesa Nabrang
6. Carita Buntala Luk 15

Dapur Keris Luk 17 :
1. Carita Kalentang
2. Sepokal Luk 17
3. Kancingan
4. Ngamper Buta

Dapur Keris Luk 19 :
1. Trimurda
2. Karacan
3. Bima Kurda Luk 19

Dapur Keris Luk 21 :
1. Kala Tinanding
2. Trisirah
3. Drajid

Dapur Keris Luk 25
1. Bima Kurda Luk 25

Dapur Keris Luk 27
1. Taga Wirun

Dapur Keris Luk 29
1. Kala Wendu Luk 29

Penamaan Dapur Keris Di Bali :

1. Ranggasemi
2. Jaka Wijaya
3. Rangga Perwangsa
4. Demang Drawalika
5. Parung Carita
6. Parung Sari

Dapur Keris Luk 3 : Jangkung Maelo
Dapur Keris Luk 5 : Tangan
Dapur Keris Luk 7 : Palang Soka
Dapur Keris Luk 9 : Rang Suting
Dapur Keris Luk 11 : Lawat Nyuk
Dapur Keris Luk 13 : Lawat Buah
Dapur Keris Luk 15 : Jeruji

Sumber : Ensiklopedi keris Oleh Bambang Harsrinuksmo (Hal : 137 – 140)

Macam – Macam Dapur Tombak Menurut Pakem Jawa :

Dapur Tombak Lurus :
1. Baru
2. Baru Teropong
3. Baru Kuping atau Sipat Kelor
4. Buta Meler
5. Pandu
6. Panggang Lele

Dapur Tombak Luk 5 :
1. Daradasih
2. Rangga
3. Panggang Welut
4. Dora Manggala
5. Seladang Hasta
6. Daradasih Menggah

Dapur Tombak Luk 7 :
1. Karacan
2. Megantara
3. Lung Gandu

Dapur Tombak Luk 9 :
1. Bandotan

Dapur Tombak Luk 11 :
1. Carita Anoman
2. Carita Blandongan

Dapur Tombak Luk Khusus :
1. Cacing Kanil (Luk 3, 5, 7)
2. Banyak Angkrem
3. Kuntul Ngantuk

Dapur Tombak Kalawaijan :
1. Tunjung Astra
2. Nagendra
3. Wulan Tumanggal
4. Dwisula
5. Trisula
6. Catursula
7. Pancasula
8. Rosan Dita

Dapur Pedang Menurut Pakem Jawa :
1. Lameng
2. Bandol
3. Luwuk
4. Lar Bango
5. Sada
6. Tebalung
7. Suduk Maru
8. Sokayana
9. Sabet

Sumber : Ensiklopedi keris Oleh Bambang Harsrinuksmo (Hal ; 141 – 143)

TENTANG KUJANG

Sekilas Tentang Kujang

Dalam Wacana dan Khasanah Kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi. Manusia yang sempurna dihadapan Allah dan mempunyai derajat Ma’rifat yang tinggi. Pantas ageman (agama) Kujang menjadi icon Prabu Siliwangi. Sebagai Raja yang tidak terkalahkan.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406)

Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

Kujang sebagai sebuah senjata andalan (gagaman) umumnya mempunyai ciri-ciri khusus sebagai kelebihannya, umumnya berbahan pamor. Pamor adalah motif, corak, atau kontur tertentu pada bilah sebuah senjata tajam yang dihasilkan dari penggunaan berbagai material, pembakaran, dan teknik penempaan logam. Kujang pamor sebagai sebuah gagaman atau pusaka, umumnya tidak digunakan secara langsung dalam sebuah perkelahian. Kujang biasanya dijadikan sebagai teman berperang (batur ludeung) atau senjata pamungkas di samping sebagai simbol dari si pemegangnya.

Kujang sebagai sebuah perkakas di antaranya adalah sebagai pisau dapur, kujang bangkong yang penulis dapatkan dari Wanaraja Garut dan sekarang menjadi koleksi Museum Sri Baduga Jawa Barat; sebagai kelengkapan upacara di antaranya adalah kujang yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy di Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut; dan sebagai sebuah simbol di antaranya adalah kujang jago (bentuknya mirip dengan figur ayam jago yang sedang berkokok), penulis dapatkan sebagai hadiah dari seorang kerabat.

Bagian-bagian kujang

bagian2 kujang

Kujang dengan berbagai bentuknya, baik itu sebagai benda yang dipergunakan dalam tataran fungsional ataupun simbolik, menarik untuk dikaji lebih lanjut. Salah satu aspek di antaranya adalah bentuk kujang itu sendiri. Sebagai sebuah pisau, kujang tampil dengan estetis sehingga menarik untuk dilihat. Bentuk kujang tidak mengintimidasi mata dan perasaan penikmatnya, berbeda jika kita melihat bentuk pisau lainnya: mengerikan karena seolah bisa menyayat dan mengoyak tubuh kita.

Lambang Kebanggaan

Untuk mengangkat kembali citra kujang sebagai senjata tradisional masyarakat Sunda dalam tataran bentuk yang kongkrit diperlukan sebuah upaya untuk menghadirkan kembali produk kujang yang dapat memberikan kesan atau impresi mengagumkan. Jika kesan indah yang bersifat feminim yang hendak ditampilkan, maka ketika memperlihatkan sebuah kujang berikut dengan kelengkapan lainnya seperti pegangan, sarung, dan kotaknya, maka yang diperlihatkan itu adalah bilah kujang yang meliuk indah bak seorang putri sedang menari dengan kelenturan tubuhnya, pegangan (ganja atau landean) dan sarungnya (kopak atau kowak) yang menambah pantas bak pakaian yang dikenakan oleh putri yang sedang menari tadi, pun dengan kotaknya yang mengemas secara utuh dan menyeluruh berikut dengan menambah nilai kujang itu sendiri.

Untuk menghadirkan sebuah kujang yang dapat dibanggakan tersebut, maka diperlukan sebuah penghayatan yang mendalam tentang hal-ihwal tentang kujang itu sendiri. Terlebih jika hendak menghadirkan kujang sebagaimana kujang yang dibuat oleh para empu terdahulu, kujang pamor tangguh Pajajaran misalnya.

Berkaitan dengan kujang pamor tangguh Pajajaran, beberapa narasumber menyatakan bahwa ciri-cirinya dapat dikenali dari karakteristik bilah kujang yang cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori, dan banyak mengandung unsur logam alam. Ciri-ciri tersebut merupakan ciri tersendiri yang berbeda dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh senjata tradisional lainnya dari periode yang sama, terlebih dari periode yang lebih muda.

Macam-Macam Kujang
macam2 ujang
.

Adalah satu tantangan tersendiri untuk menghadirkan kembali kujang pamor tangguh Pajajaran karena semua aspek yang melingkupi teknik pembuatannya belum dapat dilacak sepenuhnya, yang ada hanya berupa perkiraan berdasarkan pengamatan atas artefak-artefak yang sampat pada saat ini.

Dilihat dari tampak bilah kujang pamor tangguh Pajajaran, bahan bakunya diperkirakan langsung mengambil dari alam yang lokasinya belum diketahui secara pasti, bahan baku tersebut berupa pasir besi pilihan. Di samping bahan baku, berita atau sumber yang menyebutkan teknik pengerjaannya pun tidak ada.

Adapun wujud sebilah Kujang memiliki bagian-bagian seperti : Papatuk atau congo (bagian ujung yang runcing, digunakan untuk menoreh atau mencungkil), Eluk atau Siih (lekukan-lekukan pada bagian kujang gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh), Waruga (badan Kujang), Mata (lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan Kujang. Mata ada yang jumlahnya 9 dan minimal 5 lubang (menggambarkan lima sila Pancasila – seperti yang digunakan pada lambang Propinsi Jawa Barat) atau tanpa lubang yang disebut “kujang buta”.

Bagian lainnya adalah Pamor, yakni garis-garis atau bintik-bintik pada badan Kujang disebut Sulangkar atau tutul konon mengandung racun dan gunanya untuk memperindah bilah Kujang, Tonggong (sisi yang tajam di bagian punggung Kujang, biasanya untuk mengerat atau mengiris), Beuteung (sisi yang tajam di bagian perut Kujang), Tadah (lengkung kecil pada bagian bawah perut Kujang), Paksi (bagian ekor Kujang yang lancip), Selut (ring pada pada ujung atas gagang Kujang), Combong (lubang pada gagang Kujang), Ganja (nama khas gagang Kujang), Kowak (nama khas sarung Kujang).

Setiap pemakai kujang ditentukan oleh status sosial masing-masing. Bentuk kujang untuk raja tidak akan sama dengan kujang balapati atau barisan pratulap, dan seterusnya. Melalui pembagian tersebut akan tergambar tahapan fungsi para pejabat yang tertera dalam struktur jabatan Pemerintahan Negara Pajajaran Tengah, seperti Raja, Lengser dan Brahmesta, Prabu Anom, Bojapati; Bopati Panangkes atau Balapati, Geurang Seurat, Bopati Pakuan diluar Pakuan; Patih termasuk Patih Tangtu dan Mantri Paseban; Lulugu; Kanduru; Sambilan; Jero termasuk Jero Tangtu; Bareusan,guru, Pangwereg dan Kokolot. Jabatan Prabu Anom sampai Berusan, Guru juga Pangwereg, tergabung didalam golongan Pangiwa dan Panengen.

Dalam pemakaian kujang, ditentukan kesejajaran tugas dan fungsinya masing-masing, misalnya Kujang Ciung Mata-9, dipakai hanya oleh raja; Kujang Ciung Mata-7, dipakai oleh mantri dangka dan Prabu Anom; Kujang Ciung Mata-5, dipakai oleh Geurang Seurat, Bopati Panangkes dan Bupati; Kujang Jago, dipakai oleh balapati, lulugu dan sambilan; Kujang Kuntul, dipakai oleh patih (patih puri, patih taman, patih tangtu, patih jaba dan patih palaju). Juga digunakan oleh mantri (mantri paseban, mantri majeuti, mantri layar, mantri karang dan mantri jero).

Kujang Ciung

Kujang Bangkong, dipakai oleh guru, sekar, guru tangtu, guru alas dan guru cucuk; Kujang Naga, dipakai oleh kanduru, jaro (jaro awara, jaro tangtu, jaro gambangan); Kujang Badak, dipakai oleh pangwereg, pangwelah, bareusan, prajurit, pratulap, pangawin, sarawarsa dan kokolot. Selain diperuntukan bagi para pejabat tadi, kujang juga digunakan oleh kelompok agamawan. Namun kesemuanya hanya satu bentuk yaitu Kujang Ciung, yang perbedaan tahapnya ditentukan oleh banyaknya “mata”.

Varian Kujang Naga

Kujang Ciung bagi Bramesta (pandita agung) bermata sembilan sama dengan milik raja. Pandita, bermata tujuh. Geurang bermata tiga. Guru Tangtu Agama, bermata satu. Golongan agamawan menyimpan pula kujang pangarak yang bertangkai panjang yang dipakai pada upacara-upacara tertentu seperti Bakti Arakan, Kuwera Bakti dan sebagainya. Dalam keadaan darurat, kujang pangarak bisa saja dipakai untuk menusuk musuh dari jarak yang agak jauh. Fungsi utama kujang bagi golongan agamawan adalah sebagaipusaka pengayom kesentosaan seluruh negara.

Kelompok lain yang juga mempunyai kewenangan memakai kujang yaitu perempuan bangsawan pakuan dan golongan yang memiliki fungsi tertentu, seperti: putri raja, putri kabupatian, ambu sukla, ambu geurang, guru aes, dan sukla mayang (dayang kaputren). Kujang bagi para perempuan ini biasanya hanya terdiri dari jenis Ciung dan Kuntul karena bentuknya yang langsing. Demikian pula ukurannya biasanya setengah lebih kecil dari ukuran kujang untuk kaum laki-laki.

Untuk membedakan status pemiliknya biasanya ditentukan oleh banyaknya mata, pamor, dan bahannya. Kujang untuk putri kalangan bangsawan Pakuan biasanya bermata lima, pamor salangkar dan bahannya besi kuning pilihan. Wanita golongan lainnya menggunakan kujang bermata tiga kebawah sampai yang tidak bermata dengan pamor tutul dan bahannya dari besi pilihan.

Kaum perempuan Pajajaran itu, selain menggunakan kujang ada pula yang memakai perkakas “khas perempuan” lainnya, yaitu kudi. Alat ini kedua sisinya berbentuk sama, seperti tidak ada bagian perut dan punggung, juga kedua sisinya tajam bergerigi seperti pada kujang. Ukurannya rata-rata sama dengan kujang bikang (kujang pegangan kaum perempuan). Panjangnya kira-kira satu jengkal termasuk gagangnya. Bahannya dari besi baja, lebih halus dan tidak ada yang memakai mata

Diambil dari berbagai sumber di Internet

Mohon dikoreksi atau ditambahkan kalau dirasa kurang atau salah

    Translate from:

    Translate to:

PhotobucketPhotobucketPhotobucket

Image Hosted by PicturePush

Image Hosted by PicturePush

Image Hosted by PicturePush

Image Hosted by PicturePush
CONTACT ADMIN

Image Hosted by PicturePush
PHONE :
+62852 48700 135 (AS)
+62878 1407 3693 (XL)
(SMS CENTER) Image Hosted by PicturePush Ryanpermana77@yahoo.com Ryanpermana77@gmail.com

Image Hosted by PicturePush
Image Hosted by PicturePush
Archives
WARUNG KOPI
Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

EKSPEDISI